[Part2] Groundbreaking PSEL Legok Nangka: Investasi Rp7,2 Triliun yang Menjadi Tonggak Baru KPBU Persampahan Indonesia

kpbu 14

KPBU Membuka Jalan bagi Infrastruktur Persampahan Modern

PSEL Legok Nangka menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak lagi dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan konvensional berupa pengumpulan dan penimbunan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Pembangunan fasilitas waste-to-energy membutuhkan investasi yang besar, teknologi yang kompleks, serta komitmen operasi jangka panjang. Astu Gagono Kendarto, Dewan Pengawas PAP KPBU sekaligus Perencana Ahli Madya Direktorat Pembiayaan Strategis Kementerian PPN/Bappenas, menyoroti bahwa tantangan pengelolaan sampah tidak hanya terletak pada aspek teknologi, tetapi juga pada ketersediaan pembiayaan. Menurut Astu, pembangunan sistem persampahan modern memerlukan pendekatan creative financing, di mana setiap tahapan pengelolaan sampah dapat didukung oleh instrumen pembiayaan yang berbeda sesuai karakteristik kegiatannya.

“Pengelolaan sampah tidak dapat hanya mengandalkan APBN maupun APBD. Diperlukan kombinasi berbagai sumber pembiayaan agar seluruh rantai pengelolaan sampah, mulai dari hulu hingga hilir, dapat berjalan secara berkelanjutan.”

Karakteristik tersebut menjadikan KPBU sebagai salah satu skema yang paling sesuai, karena memungkinkan pemerintah dan badan usaha berbagi risiko, pembiayaan, serta tanggung jawab pengelolaan secara berkelanjutan. Tentunya keberhasilan proyek ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain yang tengah menghadapi persoalan keterbatasan kapasitas TPA dan meningkatnya volume sampah perkotaan.

Infrastruktur Modern Perlu Didukung Perubahan Perilaku Masyarakat

Di balik optimisme terhadap pembangunan PSEL, terdapat satu tantangan mendasar yang tidak boleh diabaikan, yaitu pemilahan sampah dari sumbernya.

Keberhasilan teknologi waste-to-energy sangat dipengaruhi oleh kualitas sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan. Di banyak negara yang telah berhasil mengembangkan PSEL, masyarakat telah terbiasa melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Sampah organik, plastik, logam, kaca, hingga material yang dapat didaur ulang dipisahkan terlebih dahulu sehingga proses pengolahan menjadi lebih efisien dan menghasilkan kualitas bahan bakar yang lebih baik.

Menanggapi pembangunan PSEL Legok Nangka, Arianto Wibowo, Dewan Pengawas Perkumpulan Ahli Profesional KPBU (PAP KPBU), menekankan bahwa pembangunan fasilitas pengolahan sampah harus berjalan beriringan dengan pembenahan sistem pengelolaan sampah di tingkat hulu.

“PSEL merupakan solusi penting pada sisi hilir, namun kita tidak boleh melupakan proses di hulunya. Pemilahan sampah seharusnya dilakukan sejak dari sumber timbulan sampah, baik di rumah tangga, kawasan komersial, maupun kawasan industri, sebelum sampah diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).”

Menurut Arianto, apabila sistem pemilahan sampah telah berjalan dengan baik, maka material yang masih memiliki nilai ekonomi seperti plastik, logam, kertas, dan kaca dapat dimanfaatkan melalui proses daur ulang, sementara sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau biodigester. Dengan demikian, hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi yang akan menjadi umpan (feedstock) bagi PSEL.Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut justru menjadi tantangan tersendiri dalam perencanaan proyek.

“Perencanaan kapasitas PSEL harus dilakukan secara cermat. Jangan sampai ketika budaya pemilahan sampah masyarakat sudah semakin baik, justru volume residu yang masuk ke PSEL berkurang sehingga fasilitas mengalami kekurangan bahan bakar. Oleh karena itu, proyeksi timbulan sampah, target pengurangan sampah, dan kapasitas PSEL harus dihitung secara terintegrasi sejak tahap studi.”

Menurutnya, pembangunan PSEL seharusnya diposisikan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu, bukan menjadi satu-satunya solusi penyelesaian sampah

 

Infrastruktur Saja Tidak Cukup

Groundbreaking PSEL Legok Nangka merupakan tonggak penting dalam perjalanan pengelolaan sampah nasional. Namun, keberhasilan proyek ini tidak hanya akan diukur dari besarnya investasi atau kapasitas listrik yang dihasilkan.

Keberhasilan sesungguhnya akan ditentukan oleh kemampuan Indonesia membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, mulai dari pengurangan sampah di sumber, pemilahan oleh masyarakat, pengangkutan yang efektif, pemanfaatan kembali material yang masih bernilai ekonomi, hingga pengolahan residu melalui teknologi modern seperti PSEL.

Apabila seluruh mata rantai tersebut dapat berjalan secara terpadu, maka PSEL tidak hanya menjadi pembangkit listrik, tetapi juga menjadi simbol transformasi pengelolaan sampah menuju ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan


4 August 2026 |