JAKARTA – PT Summarecon Agung Tbk secara resmi mengalihkan fokus pembangunannya di Ibu Kota Nusantara (IKN) dari proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) hunian bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi pengembangan infrastruktur pendidikan. Keputusan ini menandai perubahan signifikan dari rencana awal perusahaan yang telah mengantongi izin prakarsa sejak 2023.
Sebelumnya, Summarecon, bersama dua investor dari China dan Korea Selatan, berencana menggarap proyek megah dengan total investasi mencapai Rp41 triliun. Dana tersebut diproyeksikan untuk membangun sekitar 14.500 unit hunian yang diperuntukkan bagi ASN dan aparat Hankam (Pertahanan dan Keamanan). Untuk itu, perusahaan telah mengamankan Surat Izin Prakarsa Proyek (SIPP) atau Letter to Proceed (LTP) dari Kementerian PUPR pada tahun 2023.
Namun, dalam perkembangannya, Summarecon memutuskan untuk mundur dari skema KPBU tersebut. Presiden Direktur Summarecon, Adrianto P. Adhi, mengungkapkan bahwa kompleksitas dan proses dalam skema KPBU menjadi alasan utama di balik peralihan fokus ini.
“Saya melihat bahwa proses KPBU itu ternyata tidak gampang. Karena itu kan akan menggunakan dana APBN, walaupun kita akan dibayar sebagai availability payment. Juga prosesnya ketat,” jelas Adrianto usai menjadi pembicara dalam Indonesia Summit 2025 di Tribrata Hotel, Jakarta, Rabu (27/8/2025)[1].
Alih-alih membangun hunian, Summarecon kini akan memusatkan upayanya pada pembangunan infrastruktur pendidikan, yakni sekolah Al Azhar di IKN. Adrianto menekankan perbedaan mendasar antara kedua proyek ini, yakni dalam hal penyediaan lahan. Untuk proyek KPBU lahan disediakan oleh Pemerintah, sementara untuk kerjasama pembangunan sekolah, lahan dibayarkan terlebih dahulu oleh Summarecon.
Ketika ditanya mengenai status proyek hunian ASN, Adrianto menegaskan bahwa proyek tersebut tidak sepenuhnya batal, melainkan akan mungkin diambil alih oleh pengembang lain[2].
“Bukan batal, tapi mungkin sudah dikerjain orang lain. Karena kami men-switch… Fokus kita sekarang ke sekolah. Karena memang sekolah belum banyak (di IKN),” ucapnya.
Adrianto juga merefleksikan posisi awal Summarecon sebagai investor pionir di IKN. “Dulu memang kami itu investor pertama di IKN, bersama Korea dan China, tapi waktu itu kita masuk ke KPBU, hunian tower untuk PNS,” ujarnya.
Keputusan Summarecon ini menyoroti tantangan dalam implementasi skema KPBU, khususnya untuk proyek-proyek strategis nasional seperti pembangunan IKN. Sementara proyek hunian ASN mungkin akan dilanjutkan oleh pihak lain, Summarecon kini memilih untuk berkontribusi pada pembangunan IKN dengan menyediakan fasilitas pendidikan yang dikerjasamakan dengan pihak swasta.
[1] https://www.idntimes.com/business/economy/summarecon-alihkan-fokus-investasi-di-ikn-jadi-bangun-sekolah-00-brqf5-x78g7b
[2] https://tirto.id/summarecon-alihkan-fokus-di-ikn-tinggalkan-kpbu-hunian-asn-hgxn