Jakarta – Kementerian Perhubungan terus mendorong pemanfaatan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) sebagai salah satu strategi percepatan pembangunan infrastruktur transportasi nasional. Pada tahun 2026, terdapat dua terminal penumpang tipe A yang menjadi prioritas untuk dipersiapkan melalui skema KPBU, yaitu Terminal Purabaya (Surabaya–Sidoarjo) dan Terminal Betan Subing (Lampung).
Kedua proyek tersebut merupakan bagian dari upaya transformasi terminal bus agar tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat naik dan turun penumpang, tetapi berkembang menjadi transport hub modern yang terintegrasi dengan aktivitas ekonomi, ruang publik, serta pengembangan kawasan (mixed-use development).
Dalam proses penyiapan kedua proyek tersebut, tenaga ahli dari Perkumpulan Ahli Profesional KPBU (PAP KPBU) turut dipercaya menjadi bagian dari tim penyusun studi, memberikan dukungan keahlian pada aspek teknis, ekonomi, finansial, kelembagaan, dan implementasi KPBU.
Terminal Purabaya Menjadi Salah Satu Proyek Prioritas
Di antara ketiga terminal tersebut, Terminal Purabaya menjadi salah satu proyek yang memperoleh perhatian khusus mengingat perannya sebagai terminal penumpang terbesar di Indonesia dan simpul transportasi utama bagi kawasan Surabaya-Sidoarjo.
Penyusunan studi Terminal Purabaya dipimpin langsung oleh Prof. Zetha, Ketua Umum PAP KPBU yang juga merupakan akademisi Fakultas Teknik Universitas Pancasila. Prof. Zetha dipercaya sebagai Ketua Tim Penyusunan Studi Pengembangan Terminal Purabaya melalui skema KPBU.
Sebagai bagian dari proses penyiapan proyek, Prof. Zetha bersama tim melaksanakan survei pemutakhiran data pada 18 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari studi yang sebelumnya telah disusun pada tahun 2023, dengan tujuan memastikan bahwa seluruh analisis dalam studi mencerminkan kondisi terkini, baik dari sisi permintaan, karakteristik pengguna, maupun perkembangan wilayah.
Evidence-Based Project Preparation
Berbeda dengan anggapan bahwa studi KPBU hanya dilakukan melalui analisis dokumen, tim penyusun turun langsung ke lapangan untuk memperoleh data primer sebagai dasar penyusunan studi.
Dalam satu hari pelaksanaan survei, tim berhasil menghimpun 176 responden, yang terdiri atas:
- Pengguna Terminal Purabaya;
- Perusahaan otobus (PO Bus);
- Masyarakat di sekitar kawasan terminal.
Survei tersebut bertujuan memperoleh informasi mengenai pola perjalanan, kebutuhan fasilitas, tingkat pelayanan, persepsi pengguna, serta potensi pengembangan terminal pada masa mendatang.
Selain pengumpulan data melalui kuesioner, tim juga melakukan observasi terhadap kondisi eksisting terminal guna memastikan bahwa rekomendasi pengembangan benar-benar disusun berdasarkan kondisi lapangan.
Berkolaborasi dengan Berbagai Instansi
Pemutakhiran studi tidak hanya dilakukan melalui survei kepada masyarakat. Tim penyusun juga melaksanakan koordinasi dan pengumpulan data kepada berbagai instansi yang memiliki keterkaitan langsung dengan pengembangan Terminal Purabaya, di antaranya:
- Bappeda Provinsi Jawa Timur;
- Bappeda Litbang Kabupaten Sidoarjo;
- Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD);
- Dinas Perhubungan beserta instansi teknis terkait.
Koordinasi tersebut bertujuan memperoleh data mengenai rencana tata ruang, kebijakan transportasi, proyeksi pertumbuhan kawasan, hingga sinkronisasi dengan program pembangunan pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Pendekatan tersebut merupakan bagian penting dalam penyusunan proyek KPBU, karena keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan oleh aspek finansial, tetapi juga oleh keselarasan proyek dengan kebijakan pembangunan wilayah.
Kolaborasi Tim Multidisiplin
Penyusunan proyek KPBU membutuhkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu. Pada kegiatan survei di Terminal Purabaya, Prof. Zetha didampingi oleh Stefanus Kristanto sebagai Tenaga Ahli Ekonomi dan Finansial, yang bertanggung jawab dalam penyusunan analisis kelayakan ekonomi, model finansial, dan struktur bisnis proyek.
Sementara itu, pelaksanaan survei lapangan turut didukung oleh anggota sekretariat PAP KPBU Anjani dan Aisyah, yang berperan dalam koordinasi teknis serta pelaksanaan pengumpulan data responden di lapangan. Dukungan tersebut memungkinkan proses survei berjalan efektif dan menghasilkan 176 responden dalam satu hari sebagai bagian dari pemutakhiran studi.
Kolaborasi antara tenaga ahli, tim lapangan, pemerintah daerah, pengelola terminal, operator angkutan, dan masyarakat menjadi cerminan bahwa penyiapan proyek KPBU merupakan proses yang melibatkan banyak pemangku kepentingan untuk menghasilkan dokumen studi yang berkualitas.
Komitmen PAP KPBU Mendukung Penyiapan Proyek Strategis
Keterlibatan tenaga ahli PAP KPBU pada penyusunan studi Terminal Purabaya dan Terminal Betan Subing menunjukkan kontribusi nyata organisasi profesi dalam mendukung implementasi KPBU di Indonesia.
Melalui pengalaman para anggotanya dalam penyusunan studi, pelatihan, sertifikasi, hingga pendampingan proyek, PAP KPBU terus mendorong terwujudnya proses penyiapan proyek yang memenuhi prinsip bankable, implementable, dan sustainable, sehingga mampu menarik minat investor sekaligus memberikan manfaat optimal bagi masyarakat